Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan pembangunan RTH harus menjadi bagian dari perencanaan kawasan aglomerasi yang terintegrasi, terutama dalam menghadapi pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat di Jabodetabekjur.
“Ke depan, kawasan aglomerasi Jabodetabekjur harus dirancang sebagai metropolitan hijau yang modern dan berkelanjutan. Artinya, pembangunan infrastruktur, transportasi, kawasan permukiman, dan ruang terbuka hijau harus dirancang dalam satu kerangka tata ruang yang saling terhubung,” ungkapnya.
Baca Juga:
Siapa Inisial RV Penguasa Peredaran Minyak Ilegal Provinsi Jambi
Ia menambahkan bahwa peningkatan jumlah taman kota juga akan memperkuat daya tarik Jakarta sebagai kota global yang ramah lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan.
“Kota global terbaik di dunia selalu memiliki ruang terbuka publik yang luas, nyaman, dan mudah diakses masyarakat. Jika Jakarta ingin bersaing di tingkat global, maka keberadaan taman kota dan ruang terbuka hijau harus terus diperbanyak dan dijaga kualitasnya,” tuturnya.
Tohom berharap pembangunan puluhan taman baru di Jakarta dapat menjadi pemicu bagi kota-kota lain di kawasan aglomerasi untuk melakukan langkah serupa, sehingga tercipta ekosistem perkotaan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Wali Kota Bandung Pastikan Persoalan Bandung Zoo Segera Tuntas, Satwa dan Pekerja Jadi Prioritas
“Ini bukan hanya tentang Jakarta, tetapi tentang masa depan kawasan metropolitan terbesar di Indonesia. Jika ruang hijau diperbanyak, maka kota akan menjadi lebih manusiawi, sehat, dan layak huni bagi generasi mendatang,” katanya.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan pemerintah provinsi akan meresmikan sekitar 23 hingga 25 ruang terbuka hijau baru dalam waktu dekat.
Penambahan taman tersebut dilakukan untuk memperluas ruang publik yang ramah bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan di Jakarta.