Bukan hanya soal mobilitas penduduk, tetapi juga arus pangan, energi, dan kesejahteraan.
“Jika aglomerasi hanya dipahami sebagai perluasan kota, itu keliru. Aglomerasi harus menjadi sistem berbagi peran: Cianjur sebagai lumbung, Jakarta sebagai pasar, dan negara hadir menjaga keadilan di antaranya,” jelasnya.
Baca Juga:
JIAT Belum Berfungsi, 132 Hektare Sawah Muara Enim Terancam Gagal Tanam
Sebagai Ketua Umum Aglomerasi Watch, Tohom Purba juga menekankan pentingnya keberlanjutan dalam kerja sama ini.
Ia mengingatkan agar kemitraan pangan tidak berhenti pada seremoni panen bersama, melainkan diperkuat dengan kepastian harga, pendampingan petani, serta perlindungan varietas unggulan lokal seperti Pandanwangi.
“Aglomerasi yang sehat adalah aglomerasi yang membuat petani sejahtera dan konsumen tenang. Kalau petani tersenyum, stabilitas nasional akan terjaga,” katanya.
Baca Juga:
Titiek Soeharto Dorong RUU Pangan Jadi Fondasi Penguatan Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional
Ia pun menilai sinergi DKI Jakarta dan Cianjur dapat menjadi model nasional bagi penguatan ketahanan pangan berbasis wilayah.
Terlebih, kebutuhan pangan Jakarta yang tinggi merupakan peluang besar bagi daerah penyangga untuk naik kelas secara ekonomi.
“Ini contoh konkret bagaimana visi Prabowo–Gibran diterjemahkan di lapangan: kolaboratif, berkeadilan, dan berorientasi jangka panjang,” pungkas Tohom.