Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa penguatan Jabodetabekpunjur harus disertai kerangka kelembagaan yang kuat agar kebijakan lintas daerah dapat berjalan konsisten dan terukur.
“Indonesia membutuhkan model pembangunan metropolitan yang harmonis. Setiap daerah tetap memiliki identitas dan kewenangannya, namun bergerak dalam satu irama untuk mencapai kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Baca Juga:
Manajer Kopdes Berstatus Pegawai BUMN, MARTABAT Prabowo-Gibran: Momentum Transformasi Ekonomi Rakyat
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Banten yang memandang kerja sama antardaerah sebagai instrumen penting untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan aksesibilitas masyarakat.
Menurut Tohom, apabila konsep ini diterapkan secara serius, Jabodetabekpunjur dapat menjadi contoh kawasan metropolitan terbaik di Asia Tenggara yang mampu menggabungkan pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan keadilan sosial.
Tohom menilai Sustainable Aglo City Summit 2026 merupakan forum strategis yang sangat penting karena mempertemukan unsur pemerintah, tokoh nasional, akademisi, dan para pemangku kepentingan untuk merumuskan arah pembangunan metropolitan yang lebih terintegrasi.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran: APBD DKI 2026 Perkuat Aglomerasi Jabodetabekjur dan Infrastruktur Publik
Menurutnya, forum ini dapat menjadi titik awal lahirnya kebijakan-kebijakan besar yang akan menentukan wajah kawasan Jabodetabekpunjur dalam beberapa dekade mendatang.
“Dari forum-forum semacam ini, kita berharap lahir gagasan-gagasan besar yang tidak hanya memperkuat konektivitas wilayah, tetapi juga menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh masyarakat,” tuturnya.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]