Jakarta.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran mengapresiasi rencana lelang proyek MRT lintas Timur–Barat fase 1 tahap 1 yang akan menghubungkan Tomang, Jakarta Barat hingga Medan Satria, Bekasi.
Langkah yang segera memasuki tahap tender pada 2026 ini dinilai sebagai fondasi penting mewujudkan transportasi terintegrasi di kawasan aglomerasi Jabodetabekjur sekaligus memperkuat visi kota global yang kompetitif dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Menuju Kota Dunia, MARTABAT Prabowo–Gibran Nilai TOD MRT Jakarta Dapat Menyamai Orchard Road dalam Skema Aglomerasi Jabodetabekjur
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa pembangunan MRT lintas Jakarta–Bekasi bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan simbol keseriusan pemerintah membangun peradaban kota modern.
“Transportasi massal berbasis rel adalah tulang punggung kota global. Ketika MRT diperluas hingga Bekasi, itu artinya kita sedang merancang masa depan mobilitas kawasan aglomerasi yang lebih efisien, rendah emisi, dan berorientasi pada produktivitas,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Ia menilai proyek yang digarap oleh PT MRT Jakarta (Perseroda) tersebut akan memberikan efek berganda terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah timur Jakarta dan Bekasi.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo–Gibran Nilai Pembangunan MRT Timur–Barat Mendesak untuk Antisipasi Kemacetan Aglomerasi Jabodetabekjur 2030
Menurutnya, konektivitas sepanjang 24,5 kilometer dari Tomang hingga Medan Satria akan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi dan menekan kemacetan kronis di koridor padat tersebut.
“Kalau headway lima menit dengan kebutuhan 24 sampai 25 trainset bisa direalisasikan, ini akan menjadi game changer. Mobilitas pekerja dari Bekasi ke pusat Jakarta akan jauh lebih terukur. Produktivitas meningkat, biaya logistik turun, dan kualitas hidup warga ikut terdongkrak,” kata Tohom.
Ia juga menyoroti rencana pengadaan trainset dari Jepang dengan estimasi sekitar Rp 300 miliar per rangkaian enam gerbong.
Menurutnya, investasi tersebut harus dipandang sebagai belanja strategis jangka panjang.
“Jangan dilihat sebagai biaya semata. Ini investasi mobilitas 30–50 tahun ke depan. Kota global selalu ditopang sistem transportasi publik yang presisi dan nyaman,” tegasnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa integrasi lintas wilayah Jakarta dan Bekasi menjadi indikator kedewasaan tata kelola metropolitan.
Ia mengungkapkan pentingnya sinkronisasi tata ruang, kawasan hunian, pusat bisnis, hingga simpul transportasi agar tidak berjalan parsial.
“Aglomerasi Jabodetabekjur membutuhkan orkestrasi kebijakan. MRT Timur–Barat harus terhubung dengan LRT, KRL, dan moda lain secara seamless agar tercipta ekosistem transportasi terintegrasi,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia memandang proyek ini sejalan dengan semangat pemerintahan Prabowo-Gibran dalam memperkuat pembangunan infrastruktur yang berdampak langsung pada rakyat.
“MARTABAT melihat ini sebagai bagian dari visi besar menjadikan Indonesia, khususnya Jakarta dan sekitarnya, setara dengan kota-kota maju dunia. Transportasi publik modern adalah simbol martabat bangsa,” katanya.
Tohom pun mendorong agar proses lelang dilakukan secara transparan dan akuntabel, mengingat proyek ini akan melibatkan kontraktor internasional serta paket sistem perkeretaapian yang kompleks.
Menurutnya, tata kelola yang baik akan meningkatkan kepercayaan investor global terhadap pembangunan infrastruktur Indonesia.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]