“Kita melihat adanya pergeseran dari ekonomi berbasis sumber daya ke ekonomi berbasis layanan dan pengalaman. Ini adalah langkah maju yang harus terus didorong agar Indonesia mampu menjadi hub regional di bidang konvensi, pameran, dan industri kreatif,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pembangunan kawasan CBD PIK2 idealnya dipandang sebagai bagian dari desain besar pengembangan aglomerasi Jabodetabekjur yang terintegrasi, tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi juga tata ruang, transportasi, dan keberlanjutan lingkungan.
Baca Juga:
Jaga Kualitas Udara Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur, MARTABAT Prabowo-Gibran Dukung Menteri LH Segel Pabrik Logam di Banten
“Pengembangan aglomerasi tidak boleh parsial. Harus ada orkestrasi kebijakan antara pusat dan daerah agar kawasan-kawasan baru ini benar-benar menjadi episentrum pertumbuhan yang inklusif dan tidak menimbulkan ketimpangan baru,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan pentingnya memastikan bahwa pembangunan kawasan modern tetap memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar, termasuk melalui penciptaan lapangan kerja dan peluang usaha.
“Swasta harus terus didorong untuk menghadirkan pembangunan yang inklusif. Ketika investasi masuk, masyarakat lokal harus menjadi bagian dari rantai nilai tersebut, baik sebagai tenaga kerja, pelaku UMKM, maupun mitra usaha,” tambahnya.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong Semua Lahan Kosong Milik Pemerintah di Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur Dibangun Perumahan untuk Masyarakat
Lebih lanjut, Tohom memandang bahwa kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta akan menjadi kunci dalam mewujudkan kawasan aglomerasi Jabodetabekjur sebagai kota global yang kompetitif.
“Dengan sinergi yang kuat, kita optimistis kawasan ini akan berkembang menjadi pusat ekonomi baru yang tidak hanya melayani kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi magnet bagi dunia internasional,” tutupnya.
[Redaktur: Mega Puspita]