“Ketika Kota Tua menjadi simpul transit modern, maka pergerakan komuter dari wilayah Bodetabekjur akan lebih efisien. Ini akan mengurangi ketimpangan akses dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di seluruh kawasan aglomerasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa revitalisasi kawasan seluas 363 hektare dengan fokus awal 80 hektare di zona inti akan menjadi magnet baru tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi pelaku ekonomi dari seluruh wilayah aglomerasi.
Baca Juga:
Perangi Sapu-sapu Secara Terpadu, MARTABAT Prabowo-Gibran: Kolaborasi Jadi Kunci Selamatkan Sungai Jabodetabekjur
Aktivitas ekonomi yang terintegrasi dengan sistem transportasi modern diyakini akan mempercepat terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch menegaskan bahwa konsep aglomerasi Jabodetabekjur membutuhkan simpul-simpul kuat seperti Kota Tua.
“Aglomerasi bukan hanya soal kedekatan geografis, tetapi keterhubungan sistem. Kota Tua berpotensi menjadi role model bagaimana simpul sejarah bisa diintegrasikan dengan sistem transportasi masa depan,” katanya.
Baca Juga:
Konsolidasi BUMD Jakarta Kunci Ketahanan Ekonomi Global, MARTABAT Prabowo-Gibran: Sinergi Harus Berbasis Transformasi Nyata
Ia juga mengapresiasi langkah Pemprov DKI dalam menata kawasan, termasuk pengaturan parkir dan penataan PKL.
Menurutnya, aspek mikro seperti ini justru menjadi penentu keberhasilan makro dalam sistem aglomerasi.
“Jika kawasan tertata dengan baik, maka integrasi transportasi akan berjalan optimal. Ini adalah bentuk nyata dari semangat MARTABAT Prabowo-Gibran dalam membangun Indonesia berbasis kawasan yang terkoneksi, produktif, dan berdaya saing global,” tutup Tohom.