“Aglomerasi bukan konsep administratif semata, tetapi integrasi mobilitas, ekonomi, dan tata ruang. MRT ini akan menjadi tulang punggung mobilitas pekerja, pelaku usaha, dan masyarakat lintas provinsi,” tegasnya.
Tohom juga menekankan pentingnya peran pengembang swasta dalam proyek tersebut.
Baca Juga:
PBB Sebut Jabodetabekjur Terpadat di Dunia, MARTABAT Prabowo-Gibran Desak Pembenahan Infrastruktur Segera
Menurutnya, kolaborasi pemerintah daerah dan sektor swasta menunjukkan model pembiayaan dan pembangunan infrastruktur yang adaptif di tengah tantangan fiskal.
Ia menilai pola kemitraan seperti ini dapat menjadi contoh bagi pengembangan infrastruktur transportasi massal di kawasan penyangga lainnya dalam lingkup Jabodetabekjur.
Lebih jauh, Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan mengatakan bahwa pembangunan MRT lintas wilayah harus didesain berbasis prinsip keberlanjutan.
Baca Juga:
Pemprov Jakarta Bangun Tanggul 2,5 Meter Cegah Banjir Rob Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur, MARTABAT Prabowo-Gibran: Antisipasi Nyata Hadapi Perubahan Iklim
“Transportasi rel seperti MRT adalah solusi strategis untuk menekan emisi karbon dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi berbahan bakar fosil. Jika diintegrasikan dengan energi bersih, proyek ini akan menjadi lompatan besar menuju sistem transportasi rendah emisi di kawasan metropolitan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan MRT Kembangan–Balaraja berpotensi mengurangi kemacetan kronis di koridor Jakarta–Tangerang serta menekan biaya logistik dan waktu tempuh.
Dalam jangka panjang, hal ini akan meningkatkan produktivitas kawasan industri di Banten sekaligus memperluas akses tenaga kerja dari Jakarta dan wilayah sekitarnya.