Dampak lanjutannya, kata dia, adalah terbukanya lapangan kerja baru dan menguatnya rantai pasok industri kreatif serta UMKM lokal yang berinteraksi dengan ekosistem mal premium.
Sebagaimana diketahui, delapan ritel asing yang akan meramaikan mal-mal Jakarta berasal dari berbagai negara dan kategori.
Baca Juga:
Komitmen Kabareskrim Polri Memberantas Mafia BBM Dikangkangi di Jambi, 2 Truck BBM Ilegal Diduga Milik Asri DPO Kembali Diamankan Di Tebo
Di antaranya Samyuga dari Korea Selatan yang akan hadir di Lippo Mall Puri, Red Wings Shoes dari Amerika Serikat di Lotte Mall Jakarta, Samsonite Black Label di Plaza Indonesia, Roborock di Puri Indah Mall, serta Niku Niku Oh!Kome dari Jepang di Central Park.
Selain itu, ritel F&B asal China, Chagee, akan membuka sejumlah gerai di berbagai lokasi strategis, disusul 88 Seoul by Cupbop dan Hennessy.
Tohom menilai, konsentrasi masuknya merek global ke mal premium juga menjadi penanda adanya kesenjangan yang makin nyata antara pusat perbelanjaan kelas atas dan kelas bawah.
Baca Juga:
Investasi UEA Rp4 Triliun di IKN, MARTABAT Prabowo-Gibran Nilai Kepercayaan Dunia Kian Kuat
Namun, menurutnya, hal tersebut harus dibaca sebagai dorongan untuk melakukan transformasi, bukan ancaman semata.
“Mal premium mampu bertahan karena mereka menjual pengalaman, bukan hanya transaksi. Ini menjadi pelajaran penting bagi pengelola kawasan dan pemerintah daerah agar pembangunan kota tidak berhenti pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada kualitas pengalaman warganya,” jelas Tohom.
Tohom yang juga Sebagai Ketua Aglomerasi Watch ini mengungkapkan bahwa tren ini harus diikuti dengan tata kelola kawasan yang lebih terintegrasi.