“Tohom melihat TOD harus menjadi instrumen pemerataan pertumbuhan ekonomi. Jadi bukan semua aktivitas menumpuk di Jakarta, tetapi berkembang merata ke Bekasi, Depok, Tangerang, Bogor hingga Cianjur melalui konektivitas transportasi massal,” ucapnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch mengatakan kerja sama MRT Jakarta dan Shenzhen Metro Group menjadi momentum penting untuk mempercepat pembentukan sistem transportasi lintas wilayah yang benar-benar terintegrasi di Jabodetabekjur.
Baca Juga:
Jangan Tertipu! Banyak Wagyu Mahal di Restoran Ternyata Bukan Asli Jepang
Menurutnya, konsep aglomerasi yang saat ini didorong pemerintah pusat membutuhkan dukungan infrastruktur mobilitas yang kuat agar perpindahan manusia, barang, dan aktivitas ekonomi berjalan efisien.
“Kalau aglomerasi hanya dibicarakan secara administratif tanpa konektivitas transportasi yang kuat, maka kemacetan dan ketimpangan pembangunan akan tetap terjadi. MRT, LRT, KRL, bus antarkota, hingga TOD harus berada dalam satu ekosistem besar,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara MRT Jakarta dan Shenzhen Metro Group karena dinilai membuka peluang transfer teknologi, peningkatan kualitas operasional, serta penguatan perencanaan kota modern berbasis transportasi publik.
Baca Juga:
Sudah Ditahan KPK, Ajudan Bupati Tulungagung Ternyata Masih Terima Gaji ASN
“Jakarta dan kawasan aglomerasi Jabodetabekjur membutuhkan lompatan besar agar mampu sejajar dengan kota-kota global. Pengalaman Shenzhen dapat menjadi inspirasi penting untuk membangun metropolitan yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan,” tutur Tohom.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]