Jakarta.WAHANANEWS.CO - MARTABAT Prabowo-Gibran merespons serius laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyebut kawasan aglomerasi Jabodetabekjur sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di dunia, mencapai hampir 42 juta jiwa.
Organisasi relawan nasional tersebut menilai kondisi ini sebagai alarm keras bagi pemerintah untuk segera melakukan pembenahan infrastruktur secara menyeluruh dan terintegrasi.
Baca Juga:
Perangi Sapu-sapu Secara Terpadu, MARTABAT Prabowo-Gibran: Kolaborasi Jadi Kunci Selamatkan Sungai Jabodetabekjur
Ketua Umum Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba mengatakan, lonjakan populasi di kawasan Jabodetabekjur harus dipandang sebagai tantangan strategis yang tidak bisa ditangani dengan pendekatan biasa.
“Ini bukan hanya soal jumlah penduduk, tetapi bagaimana negara mampu menghadirkan kualitas hidup yang layak di tengah tekanan urbanisasi yang masif,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).
Ia menegaskan, kepadatan tinggi tanpa diimbangi infrastruktur yang memadai akan memicu berbagai persoalan serius, mulai dari kemacetan ekstrem, krisis hunian, hingga tekanan terhadap layanan dasar seperti air bersih dan sanitasi.
Baca Juga:
Konsolidasi BUMD Jakarta Kunci Ketahanan Ekonomi Global, MARTABAT Prabowo-Gibran: Sinergi Harus Berbasis Transformasi Nyata
“Kalau tidak diantisipasi sejak sekarang, kita berpotensi menghadapi krisis perkotaan yang kompleks dalam satu dekade ke depan,” kata Tohom.
Menurutnya, pemerintah perlu segera mempercepat pembangunan transportasi massal terintegrasi, memperluas kawasan hunian berbasis transit (transit oriented development/TOD), serta mendorong pemerataan ekonomi ke wilayah penyangga.
“Kunci utamanya adalah desentralisasi pertumbuhan. Jangan semua beban ekonomi ditumpuk di Jakarta dan sekitarnya,” tegasnya.