“Ini bukan hanya tentang satu jenis ikan, ini adalah alarm bahwa ekosistem kita sedang tidak sehat,” ujarnya.
Tohom juga menyoroti dampak struktural yang ditimbulkan, terutama terhadap bantaran sungai.
Baca Juga:
6,9 Ton Ikan Sapu-sapu Dibasmi, DPRD Singgung Dipakai Pedagang
Ia menjelaskan bahwa aktivitas sapu-sapu yang menggali lubang dapat mempercepat erosi dan meningkatkan risiko kerusakan tanggul.
“Dalam konteks kota seperti Jakarta yang rentan banjir, ini bukan isu kecil. Ini bisa berdampak langsung pada keamanan lingkungan dan infrastruktur,” katanya.
Ia berpandangan bahwa strategi pengendalian harus mencakup pemantauan rutin, edukasi masyarakat, serta pengawasan terhadap potensi invasi baru, termasuk dari sektor perdagangan ikan hias.
Baca Juga:
Penghargaan PROPER Hijau Jadi Tonggak Baru PGE Lumut Balai
Selain itu, pemanfaatan hasil tangkapan juga harus diarahkan secara aman agar tidak menimbulkan risiko kesehatan baru.
“Jangan sampai kita mengubah satu masalah menjadi masalah lain. Pemanfaatannya harus bijak dan tidak masuk ke rantai konsumsi manusia,” ujarnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa persoalan sapu-sapu harus dilihat dalam kerangka besar pengelolaan kawasan aglomerasi.