“Urbanisasi tidak berhenti, tetapi bentuknya berubah. Sekarang lebih ke mobilitas regional dibanding perpindahan permanen,” jelasnya.
Hal tersebut tercermin dari meningkatnya jumlah pekerja komuter yang tinggal di kota satelit seperti Bekasi, Depok, atau Tangerang, tetapi bekerja di Jakarta. Skema ini dinilai lebih ekonomis di tengah tingginya biaya hunian di pusatkota.
Baca Juga:
PBB Sebut Jabodetabekjur Terpadat di Dunia, MARTABAT Prabowo-Gibran Desak Pembenahan Infrastruktur Segera
Seorang pekerja swasta, Andi (27), mengaku memilih tinggal di Bekasi meskipun bekerja di Jakarta.
“Lebih hemat tinggal di luar Jakarta. Saya tetap bisa kerja di pusat kota tanpa harus pindah domisili,” katanya.
Jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, tren penurunan ini terlihat cukup signifikan. Pada 2023, jumlah pendatang pasca Lebaran sempat mencapai lebih dari 25.000 jiwa. Sementara pada 2026, jumlah tersebut turun hingga di bawah 12.000 jiwa.
Baca Juga:
Urbanisasi Meledak Usai Lebaran, 1.776 Pendatang Baru Masuk Jakarta
Meski mengalami penurunan, Jabodetabek tetap menjadipusat aktivitas ekonomi nasional yang menarik bagi pencari kerja. Namun, pola perpindahan penduduk kini semakin dinamis dan tidak lagi terpusat pada migrasi permanen ke ibukota, melainkan menyebar dalam bentuk mobilitas kawasan metropolitan.
[Redaktur: Mega Puspita]