Ia menambahkan, sektor otomotif khususnya kendaraan listrik (EV) menjadi katalis utama serapan lahan sepanjang 2025. Menurutnya, momentum ini harus diikuti dengan penguatan ekosistem industri hulu hingga hilir.
“Kita tidak boleh hanya menjadi basis produksi, tetapi juga pusat inovasi dan pengembangan teknologi. Pemerintah perlu memastikan transfer teknologi dan peningkatan kualitas SDM berjalan paralel,” tegasnya.
Baca Juga:
Investasi Perumahan dan Kawasan Industri Diproyeksi Melesat hingga 2026
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch menekankan bahwa pertumbuhan kawasan industri harus diiringi perencanaan tata ruang yang terintegrasi dengan kawasan permukiman, infrastruktur, dan transportasi.
“Pertumbuhan industri tidak boleh berdiri sendiri. Konsep aglomerasi modern menuntut konektivitas, efisiensi logistik, dan keberlanjutan lingkungan agar manfaat ekonominya maksimal,” katanya.
Menurutnya, capaian take-up rate sebesar 64 persen menunjukkan bahwa Greater Jakarta masih menjadi magnet utama investasi industri nasional. Namun ia mengingatkan pentingnya kepastian regulasi dan percepatan perizinan agar momentum ini tidak melambat.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong Tata Kelola Udara Modern Lewat Deteksi Emisi Industri Terintegrasi di Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur
“Stabilitas kebijakan dan kepastian hukum menjadi faktor kunci. Investor melihat konsistensi sebagai jaminan keberlanjutan,” tuturnya.
MARTABAT Prabowo-Gibran, lanjut Tohom, akan terus mendorong kebijakan yang memperkuat industrialisasi berbasis nilai tambah.
Ia optimis, dengan strategi yang tepat, kawasan industri di Jabodetabek dan sekitarnya dapat menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.