Ke depan, inovasi penyediaan air minum tidak hanya bergantung pada sumber konvensional seperti air tanah, air permukaan, dan air hujan. Teknologi desalinasi memungkinkan pemanfaatan air laut menjadi air tawar, sementara pengolahan air limbah melalui teknologi lanjutan seperti membrane bioreactor, ultrafiltrasi, dan reverse osmosis mampu mendaur ulang air hingga tingkat aman sebagai sumber air baku.
Harus diakui bahwa ketiga inovasi sumber air baku tersebut belum sebanding dari segi kapasitas jika dibandingkan dengan air permukaan maupun air tanah. Saat ini, kebutuhan air baku Jakarta sekitar 92 persen masih bergantung pada Waduk Jatiluhur, sementara sisanya sekitar 8 persen berasal dari sungai dan sumber lainnya.
Baca Juga:
Green Mindset Arief Nasrudin: PAM JAYA Andalkan Jatiluhur dan 13 Sungai, Tanpa Eksploitasi Air Tanah
Berbagai alternatif untuk penyediaan air baku yang mencukupi perlu terus dipikirkan dan dikembangkan. PAM Jaya membutuhkan sekitar 32.950 liter per detik (2.836.880 m³ per hari) untuk mencapai target pelayanan air bersih 100 persen bagi seluruh masyarakat Jakarta pada tahun 2029.
Sebagaimana diketahui, sejak Februari 2023 PAM Jaya resmi mengambil alih pengelolaan air bersih di Jakarta dari Aetra dan Palyja. Artinya, hingga tahun 2026 ini, proses tersebut baru berjalan sekitar tiga tahun. Pada awal pengambilalihan, cakupan pelayanan baru mencapai 59,53 persen, sedangkan saat ini telah meningkat menjadi sekitar 80,24 persen atau mendekati 81 persen. Jumlah pelanggan pun meningkat dari 948.594 Sambungan Rumah (SR) menjadi sekitar 1.178.000 SR.
Pada awal pengelolaan penuh oleh PAM Jaya pada tahun 2023, panjang jaringan pipa tercatat sekitar 12.195 km. Dalam kurun waktu tiga tahun, PAM Jaya berhasil menambahnya menjadi 16.234 km. Sementara itu, tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) tercatat sebesar 46,2 persen, dengan target penurunan hingga 30 persen pada tahun 2029.
Baca Juga:
Kelola Air Menuju Kota Global Dasyat: Langkah Gubernur Pramono Transformasi PAM Jaya dan IPO Bukan Liberalisasi
Dari sisi distribusi, pada awal tahun 2023 kapasitas air yang didistribusikan baru mencapai 20.935 liter per detik (1.808.784 m³ per hari). Pada tahun 2026, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 22.583 liter per detik, dengan target pada tahun 2029 mencapai 32.950 liter per detik atau sekitar 2.836.880 m³ per hari.
Dalam konteks menjaga konsistensi pencapaian program dan target tersebut, alternatif solusi penyediaan air baku harus terus diupayakan. Selain mengandalkan air permukaan (air sungai) dengan menekan tingkat pencemaran serta mengembalikan lebar dan kedalaman sungai ke kondisi ideal, alternatif lain juga perlu dirumuskan. Dalam hal ini, setidaknya terdapat dua alternatif yang berpotensi menghasilkan volume air baku yang memadai untuk memenuhi kebutuhan PAM Jaya di masa mendatang.
Pertama, pembangunan terowongan bawah tanah berskala besar sebagai solusi untuk mengatasi banjir Jakarta. Air yang nantinya tertampung dalam jumlah besar berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air baku bagi PAM Jaya.