Alternatif kedua adalah pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa. Dengan adanya Giant Sea Wall, aliran dari 13 sungai dapat tertampung dalam jumlah besar. Dalam jangka waktu tertentu, air yang tertampung tersebut berpotensi mengalami proses alami menjadi lebih tawar dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk pengelolaan air minum oleh PAM Jaya.
Seluruh inovasi ini menunjukkan bahwa masa depan penyediaan air minum akan semakin terintegrasi antara teknologi, kebijakan, dan kesadaran lingkungan. Dalam konteks tersebut, water purifier bukan sekadar alat penyaring air, melainkan bagian dari ekosistem solusi yang menghubungkan aspek kesehatan, keberlanjutan lingkungan, dan efisiensi sistem air perkotaan.
Baca Juga:
Green Mindset Arief Nasrudin: PAM JAYA Andalkan Jatiluhur dan 13 Sungai, Tanpa Eksploitasi Air Tanah
Akhirnya, perlu saya tegaskan bahwa kombinasi penguatan infrastruktur oleh PAM Jaya, penggunaan pipa food grade, serta peralihan menuju kemasan ramah lingkungan berbasis kertas merupakan hal yang sangat penting. Untuk mewujudkan hal tersebut, visi menghadirkan air minum yang aman, berkelanjutan, dan minim plastik bukanlah sesuatu yang utopis atau khayalan imajiner belaka, melainkan sebuah keniscayaan yang dapat diwujudkan secara bertahap dan terukur.
[Redaktur: Alpredo Gultom]