Menurutnya, investasi tersebut harus dipandang sebagai belanja strategis jangka panjang.
“Jangan dilihat sebagai biaya semata. Ini investasi mobilitas 30–50 tahun ke depan. Kota global selalu ditopang sistem transportasi publik yang presisi dan nyaman,” tegasnya.
Baca Juga:
Menuju Kota Dunia, MARTABAT Prabowo–Gibran Nilai TOD MRT Jakarta Dapat Menyamai Orchard Road dalam Skema Aglomerasi Jabodetabekjur
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa integrasi lintas wilayah Jakarta dan Bekasi menjadi indikator kedewasaan tata kelola metropolitan.
Ia mengungkapkan pentingnya sinkronisasi tata ruang, kawasan hunian, pusat bisnis, hingga simpul transportasi agar tidak berjalan parsial.
“Aglomerasi Jabodetabekjur membutuhkan orkestrasi kebijakan. MRT Timur–Barat harus terhubung dengan LRT, KRL, dan moda lain secara seamless agar tercipta ekosistem transportasi terintegrasi,” ungkapnya.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo–Gibran Nilai Pembangunan MRT Timur–Barat Mendesak untuk Antisipasi Kemacetan Aglomerasi Jabodetabekjur 2030
Lebih jauh, ia memandang proyek ini sejalan dengan semangat pemerintahan Prabowo-Gibran dalam memperkuat pembangunan infrastruktur yang berdampak langsung pada rakyat.
“MARTABAT melihat ini sebagai bagian dari visi besar menjadikan Indonesia, khususnya Jakarta dan sekitarnya, setara dengan kota-kota maju dunia. Transportasi publik modern adalah simbol martabat bangsa,” katanya.
Tohom pun mendorong agar proses lelang dilakukan secara transparan dan akuntabel, mengingat proyek ini akan melibatkan kontraktor internasional serta paket sistem perkeretaapian yang kompleks.