4. Meningkatnya kasus COVID, khususnya Omicron (72%); dan jawaban lainnya (2%).
"Mayoritas orang tua yang tidak menyetujui kebijakan PTM 100% memiliki alasan kesehatan, yaitu meningkatnya kasus COVID, terutama Omicron yang memiliki daya tular 3-5 kali lipat dari delta, sehingga mereka tidak ingin anak-anaknya tertular," katanya.
Baca Juga:
Utusan Khusus Rusia Kirill Dmitriev Umumkan Pembicaraan dengan Perwakilan Pemerintahan Trump
Saat ditanya 'apakah selama PTM 100 persen dilaksanakan sekolah anak responden pernah ditutup sementara karena adanya kasus positif Covid-19?', jawaban responden cukup mengejutkan.
Sebab, kata Retno, responden yang mengaku sudah pernah sekolahnya ditutup sebagai tindak lanjut adanya temuan kasus Covid di sekolahnya ada 78%, dan yang belum pernah sekolah anaknya ditutup sebanyak 22%.
"Walaupun sekolah anaknya pernah ditutup karena adanya kasus warga sekolah yang positif, namun para orang tua tetap mengizinkan anaknya kembali bersekolah tatap muka setelah sekolahnya ditutup beberapa hari. Alasannya, mereka mempercayai sekolah dan pemerintah daerah sudah sesuai SKB 4 Menteri dan telah dilakukan 3T (Tracing, Testing dan Treatment)," imbuh Retno.
Baca Juga:
Junta Militer Myanmar Umumkan Gencatan Senjata Sementara Pascagempa Mematikan
Ada sejumlah saran dari responden kepada pemerintah daerah seiring meningkatnya kasus COVID saat ini, terutama Omicron. Berikut ini sarannya:
1. Hentikan sementara PTM hingga 14 hari usai liburan Idul fitri (4%);
2. Hentikan sementara PTM sampai Maret 2022 (11%);