Keresahan warga semakin kuat karena petugas gerobak menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat pembuangan sampah sementara (TPS) sebelum diangkut ke tempat pembuangan sampah Bantar Gebang dan bau tak sedap dari sampah yang kian hari kian menggunung.
Andi, yang saat itu menjadi Ketua RT 04/RW 09 berusaha melaporkan keresahan warganya kepada Lurah, Camat, Dinas Pertamanan dan Kehutanan, hingga ke Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang saat itu menjabat Gubernur DKI Jakarta.
Baca Juga:
Arti dan Makna Kamis Putih bagi Umat Katolik
Keresahan warga sekitar lahan ini terus berlanjut hingga 2017.
Akhirnya mereka pun melalui swadaya dan gotong royong mulai membersihkan sampah tanpa melibatkan RT-RT dan RW 09.
“Akhirnya kita dengan swadaya, gotong royong, berkumpul untuk membersihkan sampah. Jadi benar-benar murni warga yang tinggal dekat tempat sampah. Bahkan pada awalnya RT lain dan RW tidak dilibatkan. Karena ini warga yang disini sudah tersiksa sekali. Jadi tentu yang digerakkan warga yang sekeliling ini dulu,” ujar Andi, pria lulusan arsitektur dari Belgia ini.
Baca Juga:
Suku Dinas Pendidikan Jakbar: PP Tunas Bikin Anak Interaktif dan Lebih Fokus Belajar
Sebanyak 25 truk sampah berhasil diangkut dari lokasi dengan swadaya sendiri, dengan biaya patungan warga sekitar.
“Karena keresahan itulah sebenarnya yang mendorong kami dari awal hingga saat ini jadi senang sama lingkungan hidup. Karena keresahan. Jadi bukan tiba-tiba kami jadi senang sama lingkungan hidup. Artinya memang ada penyebabnya,” ujar pria kelahiran Medan, Sumatera Utara itu.
Setelah sampah berhasil diangkut ke luar komplek, Andi bersama warga lain kembali memutar otak.