“Untuk kasih orang semua sadar satu RW itu kayaknya mustahil ya. Tapi dengan semaksimum mungkin melalui kegiatan-kegiatan produktif A-Green, tingkat kesadaran warga terhadap lingkungan terus bertambah,” jelasnya.
Andi menjelaskan Komunitas A-Green ini awalnya diinisiasi oleh 5 orang warga.
Baca Juga:
Arti dan Makna Kamis Putih bagi Umat Katolik
Hingga saat ini, anggota A-Green telah memiliki kurang lebih 160 orang dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Kemudian, khusus sampah-sampah anorganik, Komunitas A-Green juga mengumpulkannya dari warga di dua gudang yang telah disiapkan.
Termasuk sampah bahan berbahaya beracun (B3) seperti sampah medis ikut dikumpulkan sesuai program Sudin LH Jakarta Barat.
Baca Juga:
Suku Dinas Pendidikan Jakbar: PP Tunas Bikin Anak Interaktif dan Lebih Fokus Belajar
“Itu sampah B3 selalu kita pisahkan dalam gudang, supaya nanti waktu petugas datang ke bank sampah kita titip untuk ditangani ke penyedia jasa B3 Berizin melalui Sudin LH Jakarta Barat,” ungkapnya.
Di tempat ini, Komunitas A-Green juga mengolah sampah plastik saset, mie, kopi dan sejenisnya untuk dibuat jadi kaki bangku dan kaki wastafel.
“Sampah saset dan lain-lain ini kan nggak ada harganya. Mau dikasih ke bank sampah juga nggak ada harganya. Nggak ada yang mau nyimpan. Sampah saset ini digunting kecil-kecil lalu dimasukkan dan dipadatkan ke dalam botol plastik minuman. Kita bikin jadi bangku, jadi kakinya wastafel. Jadi benar-benar sampah tidak ada yang terbuang,” jelasnya.