“Berjalan swadaya murni. Tidak ada bantuan, benar-benar usaha sendiri dan tenaga sendiri. Setelah dua tahun kami dapat bantuan mesin pencacah sampah dari Sudin LH Jakarta Barat,” ungkapnya.
Andi mengaku bahwa apa yang Komunitas A-Green lakukan setelah beberapa tahun itu tidak sepenuhnya mendapat dukungan warga sekitar termasuk memberikan bantuan dana.
Baca Juga:
Arti dan Makna Kamis Putih bagi Umat Katolik
“Kalau bantuan, enggak ada yang mau bantu kami, karena masih berantakan, dan enggak ada orang yang percaya, kalau kita mau minta bantuan, warga takut dikemanain nanti bantuan itu,” kata dia.
Seiring berjalannya waktu, Komunitas A-Green terus melakukan kegiatan-kegiatan produktif serta inovatif meski masih swadaya warga, berdikari sendiri tanpa bantuan siapa-siapa.
Kali ini, Andi berpikir bagaimana tanaman yang dibudidayakan di lahan itu dapat kembali dikonsumsi warganya, bahkan dapat menambah pundi-pundi kas Komunitas A-Green.
Baca Juga:
Suku Dinas Pendidikan Jakbar: PP Tunas Bikin Anak Interaktif dan Lebih Fokus Belajar
Komunitas A-Green mulai membudidayakan tanaman hidroponik yang dilakukan se-ekonomis mungkin.
“Pupuknya kita enggak beli, kita pakai pupuk dari sampah dapur organik warga. Artinya kita membuat beberapa siklus tertutup. Contohnya, setiap pagi habis masak, warga membawa sampah-sampah dapurnya untuk dimasukkan ke tempat komposter hingga membusuk bisa jadi pupuk untuk tanaman-tanaman di lahan,” jelasnya.
“Jadi pupuknya sudah gratis alias ngak usah beli. Setelah sayurnya besar, warga bisa membeli sayur tersebut untuk dikonsumsi. Sisa makanan yang dimakan itu dibawa lagi ke komposter untuk diolah jadi pupuk. Itulah namanya siklus tertutup. Jadi muter-muter di sini aja sampah itu,” imbuhnya.