Di A-Green ini juga ditanami tanaman-tanaman obat kesehatan keluarga mulai dari jarak, lavender, mangkokan, sambung nyawa, serta tanaman obat lainnya yang dapat dipergunakan warga, serta untuk dijual.
Selain tanaman sayuran dan kesehatan, A-Green juga mempunyai kolam mini budidaya ikan lele dan ikan nila.
Baca Juga:
Razia Kejahatan Jalanan di Tubagus Angke, Polisi Temukan Sajam jenis Golok dari Seorang Pengendara
Bibit ikan-ikan ini bisa didapat dari bantuan sudin Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP) atau dibeli dengan kocek kas A-Green.
Kata Andi, proses budidaya ikan ini sama dengan proses pengelolaan sampah untuk tanaman-tanaman tadi melalui siklus tertutup.
“Sampah dapur warga dikasih makan ke magot. Magotnya ini nanti kalau sudah banyak dan lebih bisa dikasi jadi makanan ikan. Karena protein ikannya banyak, ikan pun cepat besar. Lalu dipanen dan dijual lagi ke warga. Warga makan ikan, lalu sisa sampahnya kembali diolah lagi. Begitu seterusnya menjadi siklus tertutup,” ungkap Andi.
Baca Juga:
Penerimaan Pajak Hingga Mei Capai Rp834 T, Pemerintah: Bukti Perbaikan Ekonomi di Masyarakat
Menurut Andi, Komunitas A-Green punya prinsip bagaimana agar sampah-sampah organik warga ini tidak perlu ke luar atau dibuang ke Bantar Gebang.
Sampah-sampah itu sebisa mungkin diolah dan dipergunakan kembali untuk kebutuhan tanaman dan budidaya ikan.
Meski sukses menyulap lahan yang dulunya jadi tumpukan sampah jadi lahan produktif, Andy menyebut apa yang dilakukan Komunitas A-Green ini belum sepenuhnya membuat warga di RW 09 sadar lingkungan.